PABRIK PENGOLAHAN KARET PENINGGALAN BELANDA DI SUNGAI TABUK, KALIMANTAN SELATAN

Sunarningsih

Abstrak. Penelitian tentang industri karet, baik dari proses penanaman hingga pengolahannya sudah banyak dikaji, tetapi data arkeologi tentang pabrik pengolahan karet belum banyak diteliti. Salah satu sisa bangunan pabrik pengolahan karet dari masa pemerintahan Belanda berada di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Tulisan ini akan membahas tentang keberadaan pabrik di kawasan situs tersebut yang sisa bangunannya masih dapat ditemui dan tersebar di beberapa tempat di wilayah Desa Sungai Tabuk Keramat. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui jenis bangunan pabrik yang ada di kawasan situs, dan pemilik bangunan pabrik pengolahan karet tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei, ekskavasi, wawancara, dan penelusuran arsip. Hasil analisis terhadap data arkeologi yang didapatkan dan studi pustaka diketahui bahwa pabrik pengolahan karet yang diteliti milik Belanda dengan nama NV. Nederlandshe Rubber Unie, yang dibangun pada 1927, dengan kapasitas produksi sebesar 7500 ton per tahun. Selain bangunan pabrik pengolahan karet terdapat juga pabrik lainnya, yaitu pabrik obat, penyamakan kulit, dan pabrik ubin lantai Watanabe.

Kata kunci: pabrik pengolahan karet, Belanda, Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 49-76
Email: asihwasita@gmail.com

Advertisements

THE CONTINUOUS CULTURE IN PELAJAU, SOUTH KALIMANTAN

Hartatik

Abstract. Pelajau is an ancient settlement area surrounded by dead river, and nowadays it split into several villages. Some toponyms marked the high activities in the past, such as sumur candi (temple well), sumur pemandian raja (bath well of king) and Masjid Keramat Pelajau (Pelajau Sacred Mosque). This paper aims to identify the role of Pelajau in the past and relationship of Pelajau with riverbank settlement sites at the upstream of South Kalimantan such as Jambu Hulu, Jambu Hilir and Nagara. The method used is descriptive with inductive reasoning. Data are collected through observation, interviews and excavation, and analysis data are conducted by laboratory, morphology and technological artifacts, as well as ethnoarchaeological approach. Results from this study indicate that a riverbank settlement of Pelajau has an important role to the development of economy, religion and nationalism in the upstream region of South Kalimantan. Based on some artifacts and traditions which are still in use, it is concluded that the culture in Pelajau is continued from ancient times until present, eventhough there are disconnect generation and changeable concept of sumur candi (temple well) meaning.

Keywords: settlement, toponym, temple well, tradition

Source: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 19-48
Email : tatitati_balar@gmail.com

KEBERLANJUTAN BUDAYA DI PELAJAU, KALIMANTAN SELATAN

Hartatik

Abstrak. Pelajau merupakan sebuah kawasan pemukiman kuna yang dikelilingi oleh sungai mati dan kini terpecah menjadi beberapa desa. Beberapa toponim menandai ramainya aktivitas pemukiman masa itu, seperti Sumur Candi, Sumur Pemandian Raja, dan Masjid Keramat Pelajau. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran Pelajau pada masa lalu dan hubungannya dengan situs pemukiman tepi sungai bagian hulu Kalimantan Selatan seperti situs Jambu Hulu, Jambu Hilir, dan Nagara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Teknik pengambilan data dengan observasi, wawancara dan ekskavasi, dengan analisis data secara laboratorium, morfologi dan teknologi artefak, serta pendekatan etnoarkeologi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pelajau merupakan pemukiman tepi sungai mempunyai peranan yang penting terhadap perkembangan perekonomian, religi dan nasionalisme di wilayah hulu Kalimantan Selatan. Dari beberapa artefak dan tradisi yang hingga kini masih digunakan, disimpulkan bahwa budaya di Pelajau masih berlanjut dari masa dahulu hingga kini, meskipun sempat terjadi keterputusan generasi dan perubahan konsep pemaknaan terhadap Sumur Candi.

Kata Kunci : pemukiman, toponim, Sumur Candi, tradisi

Sumber : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm.  19-48
Email: tatitati_balar@gmail.com

KARANGANYAR: WETLAND CHARACTER SITE, THREATS AND ITS CONSERVATION

Wasita

Abstract. Karanganyar is a site which is located at swampy area. The research questions are character of the site, damaged threatening and efforts for maintainance. The method used in this research is descriptive and inductive reasoning. Descriptive method is implemented by describing the findings, explaining its relationship, predicting, and deducing the meaning. Meanwhile, inductive reasoning is used to find the hidden causes, by conform method. It is known that the site character is settlement. Then its character is offered as a model to study the settlements development in wetland. It is also found that the threats caused damage which always happened is peat fire. In that regard, conservation efforts must be proactive with approach and outlook to the various stakeholders who in charge on peat land, so they can participate to conduct archaeological conservation.

Keywords: wetlands, character, threat, conservation

Source : Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, p. 1-18
Email: wasita6@yahoo.com

SITUS KARANGANYAR: KARAKTER SITUS LAHAN BASAH, ANCAMAN, DAN UPAYA PELESTARIANNYA

Wasita

Abstrak. Karanganyar adalah situs yang berada di lahan basah. Permasalahan yang hendak dipecahkan terkait dengan situs ini adalah mengenai karakter situsnya, ancaman kerusakan dan upaya yang perlu dilakukan dalam rangka mempertahankan kelestariannya. Metode yang digunakan dalam memecahkan permasalahan tersebut adalah deskriptif dengan penalaran induktif. Metode deskriptif diimplementasikan dengan cara menggambarkan temuan yang diperoleh, menerangkan hubungannya, memprediksi, dan menyimpulkan makna. Sementara itu, penalaran induktif digunakan untuk menemukan sebab-sebab yang tersembunyi, yaitu dengan metode persesuaian. Hasil kajian yang dilakukan adalah diketahuinya karakter situs, yaitu situs pemukiman. Karakter yang diketahui ditawarkan sebagai model dalam pengembangan penelitian pemukiman lahan basah di Kalimantan Selatan. Selain itu, juga ditemukan ancaman yang selalu menghadang kerusakan situs, yaitu kebakaran lahan gambut. Berkaitan dengan hal itu, upaya pelestarian yang dapat dilakukan adalah agar pihak arkeologi bersikap proaktif dengan mendekati dan memberikan pandangan ke berbagai stakeholder lain yang membidangi dan berkepentingan menggarap lahan gambut, agar mereka turut serta melestarikan tinggalan arkeologi.

Kata kunci: lahan basah, karakter, ancaman, pelestarian

Sumber: Kindai Etam Vol. 1 No. 1 November 2015, hlm. 1-18
Email: wasita6@yahoo.com

MEMPOSISIKAN MASYARAKAT SEBAGAI GARDA DEPAN PELESTARI SUMBER DAYA ARKEOLOGI

Wasita

Abstract
Indonesian archaeologist are challenged by the huge number of cultural heritage that to be conserved. Concersing with this, the involvement of people surrounding the heritage places, as one of instrument of conservation, is very important. However, innovation in method and strategy to increase the people awareness in any conservation activities are still to be done.

Kata kunci: masyarakat, pelestarian, sumber daya arkeologi

Sumber: Naditira Widya Vol. 1 No. 1 April 2007, hlm. 120-130
Email: wasita66@yahoo.com

Artikel selengkapnya :http://naditirawidya.kemdikbud.go.id/index.php/nw/issue/archive

 

EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM VERSUS PERLINDUNGAN SUMBER DAYA BUDAYA DI PEGUNUNGAN MERATUS

Andi Nuralang

Abstract
South Kalimantan’s Watertower in Meratus mountain range. If Meratus break, it territory will inundated. The people is a part included have relationship balancing accordance or dropped and balance of interaction. Form all the creature, the people can interaction. While it intervention with high intensity with included although ecosystem result distrubed balancing ecology until inundated. If explitation wish be aware important realm. Return Meratus’s harmoniously cannot delay, if will become prosperity South Kalimantan form calamity and destitute. The fact calamity to the amount territory result disturbed forest in mountain. Be lost forest meaning will be lost inundated people and it culture.

Kata kunci: ekploitasi, budaya, rehabilitasi, hutan, lahan, sumber daya, alam, Meratus, sumber air

Sumber: Naditira Widya Vol. 1 No. 1 April 2007, hlm. 105-119
Email: –

Artikel selengkapnya :http://naditirawidya.kemdikbud.go.id/index.php/nw/issue/archive